PPGT Kolaboratif

Hingga hari ini menurut Surat keputusan Dirjen Mandikdasmen, No.251/c/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan, terdapat tidak kurang dari 121 jenis kompetensi keahlian yang dipelajari di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan. Data tersebut tentunya menunjukan keragaman keahlian yang dapat dipersiapkan oleh SMK untuk menghasilkan lulusan yang terkompetensi pada jenis-jenis keahlian tersebut.

Walaupun begitu pada kenyataannya kondisi saat ini, keragaman keahlian atau kompetensi ini tidak diimbangi dengan ketersedian guru atau para pendidik yang mumpuni dalam mengampu proses pembelajaran keahlian di jenjang pendidikan SMK tersebut. Sebuah data mencatat bahwa fenomena yang terjadi saat ini adalah masih adanya disparitas guru yang sesuai dengan struktur kurikulum pada jenjang SMK.
Struktur kurikulum yang menyangga proses pembelajaran di jenjang SMK terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok adiptif, kelompok normatif dan kelompok produktif. Kelompok Adiptif adalah mata pelajaran yang berfungsi untuk menyiapkan kemampuan dasar yang memiliki daya transfer terhadap semua mata pelajaran keahlian seperti Matematika, Fisika, Bahasa Inggris , Kimia, IPA dan Kewirausahaan. Kelompok mata pelajaran normatif menyiapkan para peserta didik yang memiliki kompetensi kepribadian sebagai manusia Indonesia, mata pelajaran yang masuk dalam katagori ini adalah Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum, Pelajaran Agama serta Pendidikan Kewarganegaraan. Katagori terakhri adalah katagori mata pelajaran produktif. Mata pelajaran yang termasuk katagori ini adalah mempersiapkan peserta didik untuk memiliki keahlian yang handal dalam lebih dari 121 kompetensi keahlian.

Kondisi hari ini menyebutkan bahwa tidak kurang dari 5.980 guru adiptif di butuhkan untuk mengisi kekurangan guru yang mengampu pembelajaran mata pelajaran yang dikatagorikan adiptif, sedangkan untuk mata pelajaran produktif tercatat memiliki kekurangan guru sebanyak 18.165 orang guru. Gambaran kekurangan guru kedua mata pelajaran ini berbanding terbalik dengan kondisi mata pelajaran normative, dimana terjadi kelebihan guru sebanyak 16.046 guru.

Sebagai jenjang pendidikan yang mengutamakan pola pendidikan keterampilan, gambaran yang dipaparkan di atas tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan, dan justru menyiratkan sebuah kondisi dimana proses pembelajaran di SMK lebih banyak diampu oleh guru yang belum memiliki latar belakang pendidikan keahlian.

Program Rintisan PPGT Kolaboratif lahir atas kebutuhan tersebut. Program ini dilaksanakan melalui integrasi dan kolaborasi antara dua institusi (LPTK dengan Politeknik atau Universitas) dalam menjalankan program pendidikan profesi guru SMK Produktif yang pada umumnya tidak atau belum ada di LPTK dan bidang-bidang lain yang memiliki kebutuhan guru yang tinggi di langan sementara lulusan LPTK sendiri masih terbatas.

Calon mahasiswa yang dibidik pada brogram ini adalah lulusan program S1 Kependidikan dan program S1/D-IV Non Kependidikan. Model pelaksanaannya setelah lulus seleksi, calon harus mengikuti program Pendidikan Profesi Guru dalam dua semester. Semester pertama terdiri dari pendalaman bidang studi dan pendalaman bidang kependidikan serta Program workshop Pengembangan perangkat pembelajaran (PPP).

Bagi peserta yang berasal dari S1 Kependidikan, sebelum mengikuti pelatihan PPP, harus mengikuti pendalaman materu bidang studi, sementara peserta yang berasa dari S1/D-IV Non-kependidikan harus mengikuti pendalaman bidang kependidikan. Pada semester kedua semua peserta wajib mengikuti program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK untuk melatih kompetensi pembelajarannya.

Diperbarui oleh: Rochsid Tri HP | Rabu, 1 Mei 2013 14:17 WIB