Sarjana Mendidik di daerah 3T, SM3T Awal Karir

Minggu, 29 Juli 2012 | 19:23 WIB

Setelah menggenggam ijazah sarjana, saya hanya memiliki satu tekad; ingin mengabdikan diri di tempat yang tepat sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Keinginan itu terwujud, ketika adanya program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang di selengarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T. Program Nasional yakni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T).

Melalui LPTK penyelenggara Universitas Negeri Manado (UNIMA), kamipun diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri sebagai calon sarjana mendidik di daerah 3 T. Program SM-3T dimaksud untuk membantu mengatasi kekurangan guru, sekaligus mempersiapkan calon guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa. Melalui program tersebut, saya tahu tugas pengabdian ini, tidak memungkinkan untuk mengharapkan imbalan gaji yang besar. Justru sebaliknya, saya dituntut untuk memiliki rasa pengabdian yang tinggi.

Perlahan tapi pasti, dengan ketulusan hati, saya diterima sebagai Sarjana Mendidik di daerah 3 T, dan langsung direkomendasikan mengikuti serangkaian kegiatan prakondisi yang dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara UNIMA dengan Pola 120 JP (lebih kurang 12 hari) untuk membekali kesiapan mental, fisik, akademik dan ketahanmalangan.

Dua belas hari kita diberi pembekalan, kini lokasi untuk daerah sasaran masing-masing anggota SM-3T diinformasikan. Ada sedikit keragu-raguan dan ketidak sanggupan, karena mengingat LPTK penyelenggara UNIMA mendapat penempatan di daerah sasaran provinsi Nusa Tenggara Timur tesebar di tiga kabupaten yakni Sumba, Larantuka, dan Manggarai Timur. Lokasi-lokasi yang menjadi daerah sasaran secara geografis adalah daerah yang cukup jauh dari tempat kita tinggal, dan jujur saja ini adalah pertama kalinya saya akan menginjak tanah rantau.

Sebagai guru anak-anak berkebutuhan khusus saya di tempatkan ke Kab. Manggarai Timur dan jika disesuaikan dengan prakondisi saat pengenalan daerah Manggarai Timur, digolongkan tempat yang kaya akan kepedulian terhadap sesama, masyarakat yang ramah, saling menghormati, dan menghargai kehadiran sesosok Guru. “Tapi saya berprinsip bahwa dimanapun kita berada, jika kita membawa diri dengan prilaku yang sewajarnya, kita tidak akan diabaikan apalagi dipersalahkan”.

Ada sedikit kelegahan dalam hati ini, mengingat dalam perantauan di tanah orang apapun kondisinya tapi satu etika budaya yang begitu kental, itu sudah sangat memberi ketenangan.
Terkadang di tengah kesunyian malam hari menjelang tidur, saya merenung hakikat kehidupan yang penuh warna, problema sekaligus tantangan, sering terfikir “Apakah saya sanggup ? bisakah saya bertahan ? dan dapatkah saya membawa perubahan ?”

Sumber : http://omkacili.blogspot.com

Diunggah oleh: Yoggi Herdani